Selasa, 09 Desember 2014

Berpikir Dengan Template Sebagai Teknik Inovasi

Terus terang, saat saya menyelesaikan tulisan berjudul “Teruslah Berpikir Dalam Kotak”, masih ada sedikit keraguan bahwa kita bisa mengembangkan inovasi dengan menggunakan pola yang baku, atau sebuah template. Saya masih terpengaruh oleh gencarnya wacana untuk berpikir secara bebas tanpa dikekang oleh pola-pola tertentu. Memang, sebuah pola sering kali menjadikan seseorang kehilangan kadar kreativitasnya, karena yang dilakukan hanyalah sekedar mengikuti pola yang ada. Coba lihat seorang mahasiswa yang menulis skripsi, apapun yang dilakukan hanyalah mengikuti petunjuk yang ada dalam buku pedoman penulisan skripsi, sehingga metodologi dan sistematika penulisannya menjadi begitu seragam dan kurang menunjukkan keragaman cara berpikir dan cara menyelesaikan permasalahan.

Namun seiring dengan perjalanan pemikiran saya untuk menemukan dan mengembangkan model-model inovasi, tanpa sengaja saya justru menjurus kepada perlunya penggunaan template untuk mempermudah melakukan inovasi. Saya baru bisa membenarkan pernyataan Boyd dan Goldenberg dalam bukunya “Inside the Box: The Creative Method that Works for Everyone” (London: Profile Books, 2014), yang menyatakan bahwa penggunaan template dapat menuntun kita pada hasil yang tidak biasa, bahkan mengejutkan.

Awalnya saya memikirkan cara melakukan inovasi terhadap pasar tradisional. Pasar tradisional saat ini semakin terpinggirkan dan kalah bersaing dengan mal-mal atau mini-market seperti Indomaret atau Alfamart. Pasar tradisional juga semakin melekat image buruk seperti kumuh, banyak pencopet dan pengemis, timbangan yang tidak cocok, parkiran yang tidak teratur, dan seterusnya. Pasar tradisional ibarat etalase kemiskinan kota yang ingin dihindari oleh semua orang kecuali orang miskin. Maka, untuk mengubah kondisi seperti itu, sebuah langkah inovasi mutlak dibutuhkan. Namun pertanyaannya, bagaimana menginovasi pasar tradisional?

Dengan menggunakan teknik combination atau task unification, saya berpikir bahwa menggabungkan aktivitas perdagangan dengan pelestarian lingkungan hidup adalah sebuah inovasi. Jadilah konsep “pasar tradisional yang ramah lingkungan”, yakni melalui penanaman pepohonan di dalam maupun disekitar pasar tersebut. Kemudian saya lakukan lagi kombinasi dengan upaya melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai luhur nenek moyang, sehingga jadilah konsep “pasar tradisional yang ramah lingkungan dengan kandungan kearifan lokal”. Caranya adalah dengan menanam pohon Waru. Mengapa harus pohon Waru?

Pertama, pasar dan Waru adalah konsep kearifan lokal yang melekat pada masyarakat di Indonesia (terutama Jawa) sejak masa lalu. Dengan adanya Waru ini, maka wajah pasar menjadi lebih sejuk dan teduh, bisa menjadi tempat berteduh, serta menghasilkan oksigen dan dapat mengurangi polusi. Kedua, Dengan banyaknya pohon Waru, maka pedagang dapat memanfaatkan daun Waru sebagai pembungkus belanjaan menggantikan kantong-kantong plastik. Hal ini akan menekan penggunaan plastik yang membahayakan lingkungan karena tidak bisa diurai. Nah, dengan mempertahankan kearifan lokal seperti ini, maka pasar akan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi "Traditional Market Tourism". Yang dibutuhkan kemudian adalah upaya pemerintah daerah untuk menciptakan kampanye "Belanja ke Pasar" karena pasar bukan hanya potensi ekonomi bagi Pemda, namun juga modal sosial dan kultural yang harus terus dilestarikan.

Dari proses berpikir diatas, lantas muncul pengetahuan baru dalam diri saya bahwa setiap kebijakan yang berpihak pada pelestarian lingkungan, adalah inovasi dalam lapangan administrasi negara. Demikian pula, setiap kebijakan yang memperkuat local wisdom, adalah sebuah inovasi. inilah template atau pola yang bisa digunakan untuk menciptakan inovasi di bidang-bidang yang berbeda. Sebagai contoh, sekolah yang ramah lingkungan, atau gedung-gedung pemerintah yang penuh dengan penghijauan, atau puskesmas dan gudang-gudang yang mengintegrasikan dengan semangat pelestarian lingkungan, adalah inovasi. Demikian pula, industri kerajinan, pengelolaan obyek wisata, maupun penggunaan simbol-simbol budaya lokal (wayang, batik, seni tradisional) dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tertentu, adalah inovasi.

Dengan beranalogi pada kedua bentuk template tadi, maka yang perlu dilakukan adalah menemukan sebanyak mungkin template agar dapat digunakan untuk merancang inovasi sebanyak mungkin juga. Beberapa template yang mungkin dapat dipertimbangkan antara lain: segala sesuatu yang ramah anak dan ramah pengguna (children and user friendly), segala sesuatu yang menghilangkan fragmentasi dan menyatukan sistem yang bertentangan menjadi satu (integrasi sistem), segala sesuatu yang mempercepat proses tertentu melalui pemanfaatan teknologi informasi, dan seterusnya.

Tentu saja, template ini hanya alat bantu terhadap keterbatasan otak manusia. Namun sepanjang otak kita bisa diajak kompromi untuk melakukan aktivitas pikir dengan kecepatan diatas kecepatan suara, maka berpikir diluar kotak (tanpa template) akan selalu lebih unik dan mengejutkan. Minimal, untuk tahap awal, inovasi berdasarkan template akan sangat membantu melahirkan ide-ide kreatif. Dan bagi saya, berinovasi dengan template ini masih lebih tinggi derajat analisisnya dibanding berinovasi dengan teknik adopsi.

Jakarta, 9 Desember 2014

*di ruang kerja setelah vakum lama tidak menulis karena disertasi dan darah tinggi”

Innovation Quotes by Tri Widodo W. Utomo

“Kemauan berinovasi (willingness to innovate) adalah refleksi dari budaya organisasi yang positif, dan kemampuan berinovasi (ability tyo innovate) adalah manifestasi dari kualitas organisasi yang sehat”.

“Mengajak berinovasi itu sama dengan mengajak pada kebaikan (amar ma’ruf), dan berkompetisi lewat inovasi itu sama dengan berlomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat)”.

“Birokrasi sering mengulang-ulang kegiatan yang sama setiap tahun tanpa mengukur dampak dan kemanfaatannya. Inovasi dapat menghindarikan birokrasi dari sindrom Keledai yang sering terjerembab di lobang yang sama”.

“Atas nama aturan dan etika, birokrasi sering melanggengkan cara berpikir dan cara bekerja yang statis. Hanya inovasi yang mampu mengubah birokrasi robot dan birokrasi mummy menjadi birokrasi sepenuh hati”.

“Inovasi itu penuh dengan kebaikan, sedangkan pelanggaran hukum itu penuh dengan keburukan. Maka, inovasi itu tidak pernah melanggar hukum, dan pelanggaran hukum itu bukanlah sebuah inovasi”.

“Untuk berhasil, inovasi harus kompatibel dengan sistem diluar dirinya. Sebab, meskipun inovasi itu selalu menghendaki pembaharuan, namun tidak berarti merusak tatanan nilai yang berlaku dalam sebuah organisasi atau masyarakat. Inovasi itu memperkuat sistem nilai, bukan merusak”.
           
“Setiap inovasi wajib untuk didokumentasikan. Sebab, pertumbuhan inovasi ibarat deret ukur, sedangkan kemampuan untuk memvalidasi dan mempublikasikan inovasi ibarat deret hitung. Dokumentasi adalah awal untuk promosi inovasi lebih lanjut”.

“Inovasi itu adalah membiasakan pembaharuan dan memperbaharui kebiasaan secara perlahan, bertahap, namun berkesinambungan”.

“Inovasi itu butuh keberanian. Hanya orang atau organisasi pemberani yang siap untuk berinovasi. Dan hanya organisasi inovatif yang selalu menjadi rujukan bagi organisasi lainnya”.

Inovasi bukanlah tujuan, melainkan hanya sebuah cara untuk mewujudkan organisasi yang lebih berkinerja, pemerintahan yang lebih melayani, atau masyarakat yang lebih sejahtera“.

Inovasi tidak pernah terpenjara dalam dimensi ruang dan waktu. Inovasi dapat menjelma dalam bentuk apa saja, dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja“.

Inovasi itu tidak bisa dibatasi oleh jabatan, pendidikan, senioritas, atau atribut organisasi lainnya. Dan inovasi itu dapat terjadi di seluruh siklus manajemen, di semua dimensi sumber daya, dan di setiap karakter pekerjaan“.

Inovasi harus mencerminkan kepentingan banyak pihak dalam organisasi dan harus membawa manfaat untuk semua. Inovasi harus mengandung added-value bagi pelakunya dan bagi pihak lain“.

Inovasi itu adalah ilmu sekaligus seni. Sebagai ilmu, inovasi memiliki kaidah-kaidah dan metode ilmiah yang dapat dipelajari. Sebagai seni, inovasi itu beratraksi dalam alam imajinasi dan bersemi di rongga-rongga kreatif seseorang tanpa harus dipelajari“.

Anda mengalami benturan dua kondisi yang saling berlawanan? Anda memiliki masalah pelik dalam organisasi? Atau mungkin Anda jengah dengan suasana kerja, lingkungan kerja, atau hasil kerja Anda? Cobalah berinovasi, maka Anda akan terkejut karena akan mendapatkan hal-hal yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya!“.

Satu-satunya kemungkinan gagal dalam ujian inovasi adalah kegagalan untuk belajar sesuatu dari kegagalan”.

Jangan pernah berharap tidak muncul resistensi dalam sebuah perubahan. Perubahan dan penolakan terhadap perubahan itu ibarat siang dan malam, hitam dan putih, yang selalu ada karena ada pasangannya. Jadikan resistensi itu sebagai pupuk yang menyuburkan perubahan, vitamin yang menguatkan perbaikan, serta semangat yang meneguhkan perjuangan“.

Mengharapkan setiap orang dalam organisasi menjadi inovator adalah sebuah kesia-siaan. Jika ada 10 persen saja pegawai yang menjadi inovator, itu sudah lebih dari cukup. 10 persen pegawai itulah yang bertugas menebarkan virus inovasi, meyakinkan manfaat inovasi, serta mendidik dan melahirkan inovator-inovator baru“.

Menjadi inovator, pendukung inovasi, pengguna inovasi, atau penolak inovasi, itu adalah pilihan. Aktif mengambil inisiatif atau diam menunggu perintah, itu adalah pilihan. Menjadi pemimpin atau pengikut, itupun adalah pilihan. Menjadi manusia bermanfaat atau manusia biasa-biasa saja, itu juga sebuah pilihan. Apapun pilihannya, itu adalah cerminan kepribadian seseorang“.

Setiap orang memiliki kecenderungan senang dengan kemapanan, karena setiap kemapanan selalu berarti kenyamanan. Namun terlalu lama dalam kenyamanan itu hakikatnya tidak ada lagi kenyamanan. Hanya inovasi yang dapat memberikan kenyamanan baru. Semakin banyak inovasi selalu berarti semakin banyak kenyamanan yang akan diperoleh dan dirasakan“.

“Inovasi itu menentukan eksistensi seseorang, suatu organisasi, bahkan suatu bangsa. We innovate, therefore we are (kami berinovasi, oleh karena itu kami ada)“.

Inovasi itu ibarat beli 1 dapat 5. Ketika seseorang bermaksud melakukan 1 inovasi, dalam proses berpikir kreatif biasanya akan bermunculan gagasan-gagasan baru diluar maksud semula. Inovasi menawarkan banyak kejutan bagi yang mau melakukannya“.

Suatu ketika nanti, inovasi akan menjadi kebutuhan bahkan bagian dari hobby para pegawai yang sangat menyenangkan namun berdampak tinggi terhadap kinerja organisasi”.

Dalam berinovasi, jika Anda merasa memiliki pengalaman yang terbatas, keterampilan manajerial yang minim, jejaring usaha yang sedikit, dukungan / kepercayaan publik yang rendah, mungkin Anda membutuhkan proses inkubasi atas inovasi yang digagas”.

Replikasi dalam inovasi adalah proses memperbanyak praktik inovasi secara cepat dengan mutu dan manfaat yang relatif sama dengan sumber aslinya, namun lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pemakainya”.

Budaya inovasi adalah seperangkat kebijakan / aturan, kebiasaan, sikap, kondisi lingkungan dan faktor-faktor organisasi yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya kreativitas dan inovasi secara progresif dan berkelanjutan dalam sebuah organisasi”.

Kampanye inovasi yang paling baik adalah dengan inovasi itu sendiri”.

Dalam perspektif inovasi, organisasi itu ibarat kebun yang dapat ditanami dengan aneka ragam tanaman. Organisasi juga laksana kanvas yang dapat diukir dengan lukisan teramat indah. Kebun atau kanvas seseorang akan berbeda-beda, tergantung pada tingkat imajinasi dan kreativitasnya.

“Otak itu butuh vitamin bernama stimulasi. Dan memberi stimulasi terhadap otak itu mudah. Jika Anda biasa menggosok gigi dengan tangan kanan, maka cobalah dengan tangan kiri, lalu perhatikan inspirasi apa yang akan Anda peroleh.

Sebagaimana otak, organisasi juga butuh stimulasi. Membalik ritme pekerjaan, merombak tata ruang kerja, melakukan aktivitas baru yang jarang atau tidak pernah dilakukan sebelumnya, memindahkan acara di tempat yang ditabukan sebelumnya, atau merotasi tempat duduk karyawan, adalah beberapa contoh untuk membuat organisasi nampak lebih muda, gesit, dan segar”.

“Organisasi yang muda dan segar itu bukan organisasi yang baru berumur belasan tahun, melainkan organisasi yang mampu terus menghasilkan kebaruan dan perbedaan meskipun sudah berumur ratusan tahun”.

Pemimpin perubahan adalah mereka yang bisa menjadi teladan (role model) untuk perubahan; yang bersedia memberi dukungan, otorisasi, dan bimbingan kepada staf untuk melakukan inovasi; serta yang mampu menciptakan iklim yang kondusif untuk berkembangnya inovasi dalam organisasi”.

Perkembangan tradisi tulis semenjak tulisan di dinding-dinding gua, tulisan di daun lontar, di prasasti, di buku harian, di blog, hingga tulisan di jurnal online, adalah inovasi besar dalam peradaban manusia. Rajinlah menulis, karena dalam tulisan itu terkandung banyak inovasi”.

Kita tidak perlu menjadi Steve Jobs, Soichiro Honda, atau Bill Gates untuk menjadi inovator. Semua orang telah dikaruniai ide yang orisinal, yang dibutuhkan kemudian adalah mencatatnya, mengembangkannya, dan merealisasikannya”.

Pengetahuan itu seperti air. Ia akan mengalami evaporasi sia-sia jika hanya dibicarakan. Dokumentasi akan membuat gas pengetahuan terkondensasi dalam bentuk rencana implementasi. Inovasi adalah pengetahuan yang diimplementasikan“.

 “Diskresi dan inovasi hanya akan menghasilkan kebaikan dan kemanfaatan jika berada di tangan orang-orang dengan hati bersih, pikiran lurus, dan mental yang kuat. Di tangan mereka, diskresi dan inovasi tidak akan dikhianati untuk mencapai tujuan sesat dan kepentingan sesaat”.

Kreativitas tidak pernah muncul tiba-tiba. Ia adalah agregat dari tekad, kesungguhan, dan usaha tiada henti dari seseorang untuk selalu menjadi lebih baik. Kreativitas adalah sebuah kebiasaan, dan kebiasaan butuh pembiasaan”.

Motivasi adalah gizi bagi suburnya kreativitas, dan motivasi yang terbaik adalah yang tumbuh dari dalam diri seseorang. ‘Menantang diri sendiri’ adalah cara terbaik sekaligus terberat untuk merangsang kreativitas”.

Ketika Anda memiliki gagasan yang ditolak banyak orang karena dianggap sebagai gagasan bodoh, teruslah berpikir dan berbuat dengan gagasan Anda itu. Maafkan saja mereka yang tidak tahu bahwa gagasan Anda akan menjadi gagasan jenius pada masanya“.

Belajar dari orang bodoh adalah sebuah kecerdasan baru“.

Dimana ada imajinasi, maka disitu akan muncul energi untuk mewujudkannya. Maka berimajinasilah jika ingin memperoleh energi. Semakin besar imajinasi yang dihasilkan, akan semakin besar pula energi yang dapat direngkuh“.

Imajinasi adalah hak universal umat manusia, tidak dibeda-bedakan atas dasar status sosial ekonomi, tingkat intelektualitas, jenis profesi, atau klasifikasi apapun.Jangan pernah takut berimajinasi segila apapun”.



Jakarta, 9 Desember 2014

Selasa, 09 September 2014

Tetaplah Berpikir Dalam Kotak



Cara “berpikir dalam kotak” selama ini telah menjadi tersangka atas rendahnya kreativitas dalam berpikir. Bahkan tidak jarang hal ini disamakan dengan berpikir dalam tempurung yang picik dan tidak terbuka atas realita yang ada diluar batok tempurungnya. Cara berpikir ini diyakini sebagai cara berpikir yang tidak akan melahirkan gagasan-gagasan inovatif, sehingga muncullah himbauan untuk meninggalkannya dan menggantikan dengan cara berpikir baru, yakni berpikir diluar kotak (outside the box thinking) dan yang terbaru adalah berpikir dengan kotak baru (thinking in a new box).

Ketika orang mulai terjangkit oleh demam berpikir diluar kotak atau berpikir dengan kotak baru, tiba-tiba lahirlah buku berjudul “Inside the Box: The Creative Method that Works for Everyone” karya Drew Boyd dan Jacob Goldenberg (London: Profile Books, 2014). Buku ini secara terang-terangan memberi pembelaan terhadap cara berpikir yang sudah dianggap usang tersebut. Dengan segenap argumentasi dan bukti berupa ragam inovasi yang lahir dari berbagai tokoh dunia, buku ini menandaskan bahwa cara berpikir dalam kotak-lah yang justru mampu melahirkan kreativitas dan inovasi besar. Dengan sangat percaya diri, Boyd dan Goldenberg bahkan menyatakan bahwa inovasi akan lebih banyak, lebih baik, dan lebih cepat dihasilkan jika kita bekerja dengan sesuatu yang sudah familiar, yakni “kotak” kita. Kotak itu oleh Boyd dan Goldenberg disebut sebagai “template”.

Saya termasuk orang yang terkejut dengan keberanian penulis buku ini melawan mainstream. Dan terdorong rasa penasaran untuk menyelami alasan penulis, maka saya langsung membeli buku tadi tanpa menawar harganya. Meskipun terkesan defense atau mempertahankan diri, namun saya melihatnya sebagai kemampuan penulis buku tadi melihat sesuatu secara berbeda. Ketika mayoritas orang sudah meninggalkan cara berpikir dalam kotak, ternyata penulis malah menganjurkan dengan begitu antusias. Ini tentu menarik sekali untuk dicermati. Dan setelah membaca buku tersebut, dalam beberapa hal sayapun membenarkan bahwa berpikir dalam kotak tetap dapat merangsang kreativitas dan inovasi. Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa cara berpikir lain tidak cukup ampuh untuk melahirkan perbedaan dan keunikan. Bagi saya, ketiga teknik berpikir kreatif ini dapat digunakan bersama-sama atau sendiri-sendiri sesuai kecocokan orang yang akan menggunakannya. Ini hanyalah alat atau teknik saja, bukan tujuan. Tujuan dari berpikir kreatif sendiri adalah melahirkan ide-ide baru yang khas dan menghasilkan efek mengejutkan bagi orang lain. Ketika orang lain memberi ekspresi “wow”, mengatakan “kok bisa ya?”, ataupun “mengapa tidak terpikirkan oleh saya?”, maka itu tandanya bahwa pemikiran kreatif kita telah mencapai hasilnya.

Kembali kepada buku tadi, fakta apa sesungguhnya yang mengantarkan penulisnya sampai pada kesimpulan bahwa berpikir dalam kotak merupakan teknik berpikir kreatif yang bisa digunakan semua orang?

Pada tahun 1999, sekelompok peneliti mengkaji ratusan produk yang sangat sukses untuk mengetahui apa yang membuat produk-produk tadi berbeda dibanding produk lainnya. Pada awalnya banyak yang berpikir bahwa produk yang baru dan inovatif akan menunjukkan perbedaan dibanding produk lainnya. Akan tetapi, hasil temuan mereka menunjukkan bahwa produk-produk inovatif tersebut memiliki pola-pola yang serupa, yang dapat dibentuk menjadi sebuah template. Template inilah yang mengarahkan cara berpikir kita dan mengkanalisasi proses berpikir kreatif dengan cara-cara yang membuat kita semakin kreatif. Dan yang lebih mengejutkan lagi, mayoritas produk yang baru, inventif, dan sukses di pasaran adalah hasil dari 5 (lima) jenis template, yakni pengurangan (subtraction), pembagian (division), pengalian (multiplication), penggabungan tugas/fungsi (task unification), dan ketergantungan atribut (attribute dependency).

Philips Electronics adalah contoh perusahaan yang menggunakan teknik subtraction untuk menelorkan inovasi, diantaranya dengan mengubah DVD player model lama yang memiliki begitu banyak tombol menjadi DVD yang dioperasikan melalui remote control dengan tombol minimalis. Bentuk utilisasi lain teknik ini misalnya headphone dengan pelutup telinga berukuran besar digantikan dengan ear-buds yang berukuran jauh lebih kecil. Dengan alat bantu pendengaran mini ini, bahkan berbicara lewat hand-phone tidak perlu lagi memegang gadget (hands-free). Sementara teknik division adalah teknik memecah/memisah produk dan meletakkannya di tempat tertentu sesuai kebutuhan. Jika AC pada umumnya menempel pada tembok, maka ide AC portable yang dapat dipindah-pindah adalah wujud kreativitas berdasarkan teknik pembagian ini. Printer komputer yang terpisah dari tinta atau cartridge-nya adalah juga contoh sederhana dari teknik ini.

Selanjutnya, teknik multiplication bisa adalah menyalin (copy) sesuatu dan mengubah sedikit sesuai keperluan. Pemasangan roda kecil pada sepeda anak yang baru belajar bersepeda, adalah contoh teknik multiplikasi ini. TV yang bisa menampilkan dua layar sekaligus dengan ukuran berbeda adalah juga contoh sesuatu bisa diduplikasi untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Adapun teknik task unification antara lain digunakan oleh Samsonite, perusahaan tas ransel terkemuka. Ransel pada umumnya membuat pemakainya sakit punggung atau leher karena beban yang berat. Menyadari kelemahan ini, Samsonite menciptakan strap (pengait di pundak) yang empuk, dan menekan pada titik shiatsu untuk menimbulkan sensasi pijat. Semakin berat beban di dalam ransel, maka semakin dalam sensasi yang diperoleh pemanggulnya. Selain itu, teknik unifikasi fungsi juga telah dipraktekkan misalnya pada kaos kaki Odor-Eaters yang memberi rasa hangat sekaligus aroma harum pada kaos kaki tersebut. Ada juga produk pelembab wajah yang diberi fungsi tambahan sebagai pelindung matahari. Banyaknya taksi dan bus kota yang memasang iklan pada body kendaraan adalah juga cerminan dari teknik task unification.

Teknik yang terakhir, attribute dependency, adalah teknik melakukan perubahan produk sesuai dengan perubahan keadaan atau kebutuhan tertentu. Wiper mobil yang dibuat dengan kecepatan yang berbeda sesuai dengan lebatnya hujan, atau volume radio/TV yang bisa dinaik-turunkan sesuai tingkat kebisingan lingkungan atau selera pendengarnya, adalah sebuah inovasi yang menyediakan pilihan situasional bagi penggunanya.

Mengapa penggunaan template penting untuk melahirkan inovasi? Dalam kehidupan sehari-hari, template itu kita kenal sebagai kebiasaan (habit). Kebiasaan inilah yang berfungsi untuk memudahkan hidup kita dengan cara memacu pemikiran dan aksi familiar dalam merespon sebuah informasi atau situasi. Dengan kata lain, otak kita bekerja memproses informasi dengan cara mengorganisasikannya dalam kebiasaan yang sudah dikuasai. Kita memiliki kebiasaan atau tabiat harian seperti seperti bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat kerja, dan seterusnya. Karena sudah menjadi kebiasaan, maka tidak diperlukan usaha yang besar untuk melakukannya lagi dan lagi.

Uniknya, Boyd dan Goldenberg berargumen bahwa kebiasaan tertentu dapat menuntun kita pada hasil yang tidak biasa, bahkan mengejutkan. Mereka mengatakan: “The most highly creative humans use template to produce extraordinary results”. Mereka memberi contoh bagaimana Paul McCartney dan John Lennon, anggota The Beatles, menghasilkan ratusan lagu abadi sepanjang masa dan menjadi hits dalam tangga-tangga lagu dunia. Dari biografi Paul McCartney terungkap bahwa John Lennon selalu menulis bait pertama, dan itu selalu cukup. Bagi McCartney, itu adalah sebuah direction dan inspirasi untuk seluruh lagu yang akan diciptakan. Terhadap kebiasaan ini, McCartney menulis: “I hate the word, but it was the template”. Nah, atas dasar template itulah kemudian The Beatles menjelma menjadi grup band legendaris yang sangat fenomenal. Bagi Boyd dan Goldenberg, untuk menjadi inovatif, tidak perlu menunggu inspirasi atau datangnya ide-ide brilian, karena hal itu bisa menimbulkan ketergantungan untuk memulai sesuatu.

Pertanyaan yang menggelitik yang diajukan sendiri oleh Boyd dan Goldenberg adalah, mengapa seseorang enggan menggunakan template? Menurut Boyd dan Goldenberg, setiap orang kreatif sejatinya menggunakannya, hanya saja mereka tidak menyadarinya atau khawatir template-nya akan dicuri oleh orang lain. Selain itu, dengan penggunaan template seolah-olah akan mengurangi kreativitas seseorang, namun hal ini dibantah keras oleh Boyd dan Goldenberg bahwa tidak ada satupun yang akan berkurang dengan menggunakan template. Mereka memberi contoh seorang arsitek Amerika yang terkenal, Frank Lloyd Wright, yang membangun rumah spektakuler bernama Fallingwater. Rumah itu sepenuhnya memanfaatkan batu, arus air, maupun komponen lain dari sekitar rumah yang dibangunnya, karena dia merasa tidak perlu mencari ide dan bahan dari luar lingkungannya (simbol tidak perlu berpikir diluar kotak).

Saya punya sedikit kritik atas pandangan Boyd dan Goldenberg. Mungkin benar bahwa template atau berpikir dalam kotak akan memudahkan seseorang untuk menghasilkan karya-karya baru. Namun karya-karya itu mungkin lebih tepat disebut sebagai produktivitas dibanding inovasi. Ratusan lagu The Beatles jelas sebuah produktivitas yang luar biasa, namun warna lagu (genre) relatif sama, yakni termasuk kategori slow/soft music. Dengan kata lain, karena cara membuatnya sama, maka hasilnya relatif sama, meskipun jumlahnya bisa sangat banyak. Lain halnya jika lagu-lagu itu dikombinasi dengan nuansa etnis tertentu, misalnya Afrika, Latin, atau Bali, sehingga menghasilkan corak lagu yang berbeda, maka itu adalah sebuah kreativitas dan inovasi baru. Sayapun agak meragukan bahwa dengan menggunakan template yang sama terus-menerus dapat menghasilkan produk yang berbeda-beda dan inovatif. Sebagaimana dikatakan oleh Einstein, “Insanity is doing the same thing over and over again but expecting different result” (melakukan sesuatu yang sama terus-menerus namun mengharapkan hasil berbeda adalah sebuah kegilaan).

Meskipun saya belum sepenuhnya bisa menerima ide bahwa “berpikir dalam kotak” lebih kreatif dibanding “berpikir diluar kotak” atau “berpikir dengan kotak baru”, tetap saja saya mendukung untuk digunakannya segala macam kotak untuk menghasilkan kreativitas sebanyak dan sehebat mungkin. Saya juga sangat mengapresiasi provokasi Boyd dan Goldenberg untuk kembali ke cara berpikir paling “tradisional” ini. Sebab, dibalik beberapa hal yang bagi saya belum cukup rasional, mereka berdua menantang siapapun untuk berani berpikir lebih keras dan lebih kreatif. Contohnya, mereka menyatakan bahwa brainstorming (curah pendapat) hanya akan menghasilkan ide-ide yang lebih sedikit dan berkualitas lebih rendah. Padahal, selama ini kita yakini bahwa brainstorming merupakan salah satu teknik berpikir kreatif yang dapat menghasilkan banyak ide-ide kreatif. Selain itu, mereka juga menantang pandangan banyak orang bahwa cara berinovasi adalah dengan memulai mendefinisikan permasalahan secara baik, dan kemudian menawarkan alternatif solusinya. Boyd dan Goldenberg justru memulai dengan solusi yang abstrak dan konseptual, baru kembali kepada masalah yang akan dipecahkan. Cara-cara berpikir terbalik yang ditunjukkan oleh kedua orang tadi bagi saya sama artinya bahwa mereka sedang berpikir dengan kota baru, bukan kotak yang sudah eksis dan mereka miliki sebelumnya.

Atas dasar itulah, saya tetap merekomendasikan siapa saja untuk membaca buku ini. Ternyata, begitu banyak cara berpikir yang bisa dipilih untuk membantu memproduksi kreativitas.

Jakarta, 9 September 2014
*veteran-serpong-pejompongan-serpong*