Rabu, 19 Oktober 2016

INOVASI SEBAGAI AKTUALISASI REVOLUSI MENTAL



Oleh:
Dr. Tri Widodo W. Utomo, MA
Deputi Inovasi Administrasi Negara, LAN-RI

Semenjak era Presiden Jokowi, revolusi mental menjadi tagline pemerintah yang terus menggema. Secara konseptual, revolusi mental bukanlah sesuatu yang baru karena pernah dicetuskan oleh Presiden Soekarno pada pidato kenegaraan memperingati proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1957. Dalam buku saku Gerakan Nasional Revolusi Mental yang diterbitkan oleh Kementerian Koordinator Bidang PMK, disebutkan bahwa revolusi mental (selanjutnya disebut RM) adalah gerakan nasional untuk mengubah cara pandang, pola pikir, sikap, nilai-nilai, dan perilaku bangsa Indonesia untuk mewujudkan bangsa yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Dengan kata lain, RM dapat dikatakan sebagai Gerakan Hidup Baru bangsa Indonesia.

Agar dapat dilaksanakan secara lebih sistematis, komprehensif, dan terukur, maka RM dijadikan sebagai kebijakan formal yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2015 tentang RPJM Nasional 2015-2019. Dalam RPJMN ini gerakan RM merupakan satu dari sembilan agenda prioritas pembangunan, tepatnya pada agenda ke-8 yakni “Melakukan Revolusi Karakter Bangsa”.

Pertanyaannya, bagaimanakah aktualisasi kebijakan tersebut terutama di kalangan aparatur pemerintahan? Hingga saat ini telah banyak lembaga pemerintah yang melakukan deklarasi atau pencanangan gerakan RM, namun masih terkesan hanya bersifat serenomial belaka. Atas dasar itulah tulisan ini ingin memberi kontribusi pemikiran untuk menerjemahkan RM kedalam rencana aksi yang mampu membawa perubahan nyata terhadap kinerja organisasi dan pelayanan kepada masyarakat. Namun sebelumnya akan didahului dengan deskripsi tentang esensi RM dan nilai-nilai kepemimpinan yang dibutuhkan untuk memastikan berjalannya spirit RM secara maksimal.

Esensi Revolusi Mental

Terdapat 3 (tiga) nilai utama dalam gerakan RM, yakni integritas, etos kerja, dan gotong royong. Integritas diartikan sebagai kesesuaian antara perkataan dengan perbuatan, serta sikap tanggung jawab dan komitmen terhadap prinsip-prinsip moral dan etika. Sementara etos kerja dimaknakan sebagai kapasitas pribadi yang berorientasi pada hasil terbaik, serta terus menerus melakukan pembaharuan dan inovasi dalam lingkup tugas sehari-hari. Adapun gotong royong adalah bentuk dari semangat kebersamaan, kepedulian, dan kesukarelaan untuk membangun lingkungan sosial yang lebih baik dan memecahkan masalah bersama secara partisipatif.

Jika disimak lebih teliti, ketiga nilai utama RM tersebut mencakup dimensi sikap perilaku dan mental spiritual umat manusia. Dengan kata lain, RM ingin membangun sebuah karakter dan mentalitas manusia Indonesia yang berkepribadian tangguh dan unggul, berjiwa pejuang yang tidak mudah menyerah, berpikiran positif dan optimis ditengah banyaknya keterbatasan, senantiasa ingin maju dan berubah, berani meninggalkan zona nyaman dan menerima tantangan baru, rela berkorban untuk kebaikan bersama, dan karakter sejenisnya. Membangun manusia tidak lagi cukup hanya dari sisi lahiriah yang diukur oleh tingkat kesehatan, kecerdasan, dan daya beli saja, sebagaimana konsep IPM (indeks pembangunan manusia) selama ini. Dimensi yang lebih penting adalah dimensi ruhaniah, kejiwaan dan budi pekertinya. Bukankah lagu kebangsaan Indonesia Raya-pun juga mendahulukan bangunlah jiwanya dari pada bangunlah badannya? Meminjam istilah jaman Presiden Soeharto dulu, esensi RM adalah pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya.

Nilai Kepemimpinan Berbasis Revolusi Mental

Sebagus-bagusnya konsep dan kebijakan, tidak ada artinya jika tidak terimplementasi dengan bagus. Demikian pula dengan gerakan RM, hanya akan memberi makna dan nilai tambah bagi sebuah institusi apabila dapat dioperasionalisasikan dengan tepat mutu dan tepat sasaran. Dalam kaitan ini, pemimpin menjadi faktor determinan yang menentukan apakah RM hanya akan menjadi slogan indah semata, ataukah mampu ditransformasi menjadi kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Mengingat peran strategis kepemimpinan dalam implementasi gerakan RM, maka pemimpin pada setiap level perlu memiliki 5 (lima) nilai kepemimpinan sebagai berikut:

1.      Orientasi Kepublikan
Pemimpin adalah mereka yang mendapat amanah untuk mengelola sumber daya milik rakyat untuk kemaslahatan rakyat. Untuk itu, hal pertama yang harus diingat oleh seseorang saat mengucapkan sumpah jabatan adalah bahwa jabatannya, kewenangannya, dan fasilitasnya, semua harus diabdikan untuk kebaikan rakyat. Oleh karena itu, pada saat menyusun perencanaan program/kegiatan, seorang pemimpin wajib menjamin bahwa program tersebut akan memberikan evidence bagi kemanfaatan publik. Sama halnya dalam alokasi anggaran, pemimpin harus berani memberi garansi bahwa setiap uang yang dibelanjakan memiliki dampak positif untuk publik (prinsip value for money). Selain itu, dalam pengambilan keputusan, seorang pemimpin harus mempertimbangkan matang-matang agar tidak terjadi kekeliruan yang dapat menimbulkan kerugian atau kekecewaan publik (prinsip zero-defect policy).
2.      Mendekatkan Diri dan Mendengar dari Dalam
Tugas utama pemimpin adalah melayani orang lain. Tidak mungkin tugas melayani dapat dilakukan dengan baik jika pemimpin tidak tahu kebutuhan, harapan, dan suara hati orang-orang yang harus dilayani. Ilmu memang bisa mempermudah tugas seorang pemimpin, namun komunikasi langsung, interaksi dan silaturahmi dengan stakeholders tidak boleh dilupakan. Pemimpin harus menyadari benar bahwa secara filosofis, pemimpin adalah pelayan publik, maka kedudukannya dibawah orang-orang yang dilayani. Itulah sebabnya, pemimpin yang baik berani melakukan reposisi, yakni mendudukkan masyarakat sebagai pemberi mandat dan menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat. Dengan kedudukan yang tinggi tadi, maka masyarakat harus senantiasa terlibat dalam perumusan kebijakan hingga evaluasinya. Mahatma Gandhi adalah contoh terbaik pemimpin yang selalu mendengar dan menyerap aspirasi rakyat, hingga ia dijuluki sebagai orang yang “mendengar dengan matanya”.
3.      Keteladanan
Seseorang terpilih menjadi pemimpin pastilah karena memiliki keunggulan komparatif tertentu. Maka, sudah sewajarnya pemimpin menjadi cermin atau teladan bagi orang lain. Sebagai role model, seorang pemimpin berprinsip memulai kebaikan dari diri sendiri dan tidak menunggu orang lain melakukannya (lead by example). Istilah Aa Gym, keteladanan adalah nasihat yang terbaik. Keteladanan juga dapat dibangun melalui sikap untuk memenuhi tugas-tugasnya – bukan sekedar janji – sebagai pejabat publik (walk the talk). Disamping itu, pemimpin yang baik berani menanggung resiko demi kepentingan dan kesejahteraan publik (risk taker).
4.      Pembaharuan Berkelanjutan
Perbedaan utama antara pemimpin dan pengikut adalah bahwa pemimpin adalah mereka yang siap dan mampu membuat perbedaan. Jika seorang pemimpin bekerja secara rutin dan tidak memiliki kreativitas yang membedakannya dengan para pendahulunya, maka tidak ada bedanya ia dengan para pengikutnya. Itulah sebabnya, karakter pemimpin berbasis RM adalah membangun optimisme kebangsaan bahwa segala sesuatu adalah mungkin (state of possibility). Pemimpin tipe ini sanggup melakukan paradigm shift, yakni mengubah dan meninggalkan kebiasaan lama (business as usual) untuk mentradisikan hal baru yang lebih produktif.
5.      Integritas
Selain sifat-sifat jujur, dapat dipercaya, serta konsisten antara keyakinan dengan tindakan, seorang pemimpin dituntut memiliki kapasitras self-mastery, yakni mampu mengendalikan diri dari godaan atau kecenderungan berpikir sempit atau menyimpang. Pemimpin yang berintegritas juga selalu memiliki orientasi terhadap kualitas, sehingga terus menjaga hasil pekerjaannya agar tetap akuntabel, transparan, dan berfaedah untuk organisasi dan orang lain.

Inovasi Sebagai Aktualisasi Revolusi Mental

Pemimpin yang baik, pintar, ramah, dermawan, dan demokratis, tidaklah cukup. Pemimpin bukanlah pertapa yang menghindari berbuat salah dan hanya berpikir tentang kehidupan setelah mati. Pemimpin adalah mereka yang bisa mewariskan kebaikan (legacy) dan melakukan perubahan terus-menerus meski menghadapi beragam risiko. 5 (lima) nilai kepemimpinan diatas dapat dijadikan bekal untuk membawa organisasinya kearah yang lebih baik. Inilah hakikat pemimpin perubahan (transformational leadership).

Dari pengalaman para pemimpin di daerah dewasa ini, kita cukup optimis bahwa gerakan RM tidak akan menjadi jargon belaka. Perubahan dan inovasi di berbagai daerah mengindikasikan telah terjadinya perubahan mindset dan cara kerja yang jauh lebih baik dan lebih ramah pelanggan (costumer friendly). Di Kabupaten Kebumen, misalnya, ada inisiatif “Ultah ke-17 Dapat Hadiah e-KTP dan ”Pelayanan e-KTP Jemput Bola Bagi Orang Jompo”. Meski terkesan sederhana, namun gagasannya sangat kreatif dan orisinal, sekaligus sangat menonjol semangat melayaninya. Kedua jenis inovasi tadi juga mencerminkan kehadiran negara secara nyata di hadapan rakyatnya. Sementara itu di Kabupaten Kupang di NTT bisa dicontohkan inisiatif cerdas untuk mempercepat proses penghijauan melalui program ”Embung-embung Tanam Paksa, Paksa Tanam”. Meski terkesan kurang demokratis karena penggunaan kata ”paksa”, namun dalam implementasinya tidak ada pemaksanaan dan lebih berbasis kesadaran setiap penduduk, dan perlahan mampu mengubah wajah daerah yang cenderung tandus serta bercirikan rawa-rawa dan padang rumput menjadi area yang lebih hijau dan produktif. Selain itu, Kupang juga memiliki inovasi yang unik misalnya dengan dikembangkannya ”Kampung Garam” dan ”Lumbung Rumput Laut”, yang menunjukkan orientasi terhadap kepentingan masyarakat petani dan nelayan (Sumber: dokumen Laboratorium Inovasi LAN, 2016).

Pemilihan Kebumen dan Kupang ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa inovasi sektor publik yang berkembang di tanah air selama ini bukan hanya terjadi di Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, atau Bantaeng yang sering muncul di berbagai publikasi lokal maupun nasional. Semangat berinovasi sudah semakin merebak dan merata seiring kebijakan pemerintah Jokowi-JK yang menempatkan inovasi pada posisi terhormat di RPJMN 2015-2019. Untuk diketahui, kata inovasi diulang-ulang sebanyak 26 kali pada Buku I, 68 kali pada Buku II dan 37 kali pada Buku III. Hampir di Sembilan agenda prioritan pembangunan (Nawacita) terdapat semangat berinovasi. Hal ini kontras dengan RPJMN era-era sebelumnya yang bahkan tidak terdapat satupun kata inovasi didalamnya.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah, bagaimana setiap unit kerja dapat menyusun Rencana Implementasi Gerakan RM untuk perbaikan pelayanan publik. hal pertama yang perlu disiapkan tentu saja adalah listing jenis layanan instansi masing-masing beserta tingkat kinerjanya saat ini. Dari informasi baseline ini kemudian dianalisis sedikit tentang kinerja yang diharapkan dan faktor-faktor yang menyebabkan target kinerja belum mampu diwujudkan. Analisis ini akan menghasilkan informasi tentang kebutuhan inovasi serta area perubahan yang perlu diintervensi. Kebutuhan inovasi inilah yang selanjutnya dituangkan dalam sebuah kerangka kerja untuk dilaksanakan dengan disertai monitoring yang memadai. Pada akhirnya, perlu dilakukan evaluasi terhadap implementasi program inovasi ini, apakah memberikan dampak yang signifikan terhadap pelayanan publik atau tidak. Jika ternyata inidikator pelayanan meningkat, itu adalah cerminan bahwa gerakan RM telah berhasil mencapai sasarannya.

*) Tulisan ini disiapkan untuk Majalah Warta Bandiklat Jawa Tengah.

Tidak ada komentar: