Rabu, 19 Oktober 2016

Pesan Untuk Pakpak Bharat



Tulisan ini sebenarnya saya siapkan sebagai pidato lisan pada kegiatan launching rencana inovasi di Kabupaten Pakpak Bharat, tanggal 11 Oktober 2016. Estimasi waktu yang dialokasikan cukup lama yakni setengah jam, mulai jam 10.00-10.30 wib. Namun karena bupati ada rapat penting dengan Forkompimda terkait persiapan Pilkades serentak bulan depan, acara baru bisa dimulai pada pukul 13.00 wib, sementara paling lambat pukul 14.00 wib saya sudah harus mengejar pesawat pukul 20.00 wib. Maka, saya hanya memberi sambutan tidak lebih dari lima menit saja, sedangkan pointers yang sudah saya siapkan menjadi sia-sia. Nah … agar tidak menjadi sia-sia, “terpaksalah” knowledge verbal harus saya tuangkan dalam bentuk naskah, sehingga pesan-pesan yang ingin saya sampaikan dapat diterima dengan lebih mudah.

Kesan pertama saya terhadap Pakpak Bharat adalah daerah yang begitu tenang dan damai, subur makmur, sangat alami, dan teramat indah. Dari Sidikalang (Ibukota kabupaten Dairi, tempat kami bermalam) ke Salak (Ibukota Pakpak Bharat), jalanan relatif mulus meski agak sempit, diapit oleh hutan rimba yang masih perawan. Tidak nampak ada deforestrasi sama sekali atau aktivitas perusakan hutan. Tidak nampak juga enclave atau pemukiman liar penduduk di wilayah hutan. Benar-benar sebuah hutan konservasi yang terjaga kelestariannya.

Pikiran saya langsung terkoneksi dengan dua hal. Pertama, lagu Koes Plus berjudul “Kolam Susu”, yang mendendangkan syair “Orang bilang tanah kita tanah surga … Tongkat kayu dan batu jadi tanaman …”. Kedua, semboyan para pendiri bangsa bahwa Indonesia adalah negeri gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, ibarat untaian zamrud di sepanjang khatulistiwa. Kedua hal tersebut, begitu cocok untuk mendeskripsikan Pakpak Bharat.

Angan saya kemudian melayang lebih jauh. Saya membayangkan situasi puluhan atau ratusan tahun yang lalu, siapa dan apa motivasi manusia pertama yang memilih tinggal di daerah ini? Saya yakin tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan saya ini, bahkan oleh penduduk aslinya. Oleh karena itu, saya mencari analogi yang paling mendekati dengan situasi Pakpak Bharat. Analogi saya jatuh pada Alas (hutan) Mentaok, sebuah rimba belantara di tlatah Mataram (sekarang Yogyakarta). Hutan ini adalah area yang dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang, kepada Ki Ageng Pemanahan, atas jasanya mengatasi “pemberontakan” Ario Penangsang. Tanah ini dinamakan tanah Perdikan, dimana pemiliknya dibebaskan dari kewajiban membayar upeti (baca: pajak bumi) atas jasanya kepada negara. Pembebasan pajak ini boleh jadi merupakan bentuk inovasi pada masa pemerintahan kerajaan tempo dulu. Karena tidak perlu membayar pajak, maka Alas Mentaok itu mengundang minat banyak pendatang untuk tinggal dan berusaha di daerah tersebut, sehingga lama kelamaan semakin ramai dan makmur. Dan kita lihat sekarang, Alas Mentaok telah menjadi kota pelajar, kota budaya, kota wisata, dan juga kota perdagangan, yakni Kota Yogyakarta.

Alas Mentaok adalah contoh keberhasilan transformasi dari wilayah hutan menjadi perkotaan modern yang sarat dengan fasilitas layanan umum. Namun sebaliknya, ada situasi dimana kota-kota yang sudah relatif maju justru mengalami kemunduran yang sangat drastis sehingga ditinggalkan oleh penduduknya akibat mis-management atau karena sumber daya yang ada terkuras habis. Contoh abandoned cities ini antara lain Humberstone di Chili. Kota ini mencapai masa kemegahan pada periode 1920-1940an karena kekayaan tambangnya. Namun kota ini sudah tidak berpenghuni pada tahun 1961. Demikian pula kota Wittenoom di Australia. Pernah berpenghuni lebih dari 20 ribu jiwa namun sekarang hanya dihuni oleh beberapa orang saja. Kasus kota Gary, Indiana, di sisi selatan Chicago, juga bernasib sama. Pada tahun 1906 mengalami kejayaan terdorong oleh industri baja, namun tahun 1960-an mengalami depresi dan tidak mampu bangkit lagi hingga sekarang. Masih banyak lagi contoh kota-kota yang ditinggalkan karena alasan yang berbeda-beda, misalnya kota Ruby di Arizona, Eerie City of Agdam di Azerbaijan, dan seterusnya (http://weburbanist.com/2008/07/06/20-abandoned-cities-and-towns/, http://www.touropia.com/lost-cities/).

Bagaimana dengan Pakpak Bharat, akankah kawasan ini menjelma menjadi pusat pertumbuhan dan pusat kemakmuran baru, ataukah justru akan ditinggalkan setelah sumber daya alam habis tersedot atau karena salah urus? Keduanya memiliki probabilitas yang sama besar. Dalam hal ini, faktor yang akan menentukan arah Pakpak Bharat kedepan dan mampu membuat perbedaan adalah aparaturnya. Akankah aparatur disini mampu berpikir kreatif dan visioner, didukung kemampuan melakukan terobosan-terobosan dalam manajemen pemerintahan; ataukah mereka terjebak pada kebiasaan rutin (business as usual), nyaman dalam zona yang tidak kompetitif (comfort zone), dan enggan untuk berubah (resistance to change).

Untuk sementara, dapat ditarik hipotesa bahwa aparatur di Pakpak Bharat telah memiliki kemauan yang tinggi untuk menjadikan daerahnya lebih maju dan berkembang, serta memiliki kapasitas yang cukup baik untuk melakukan terobosan-terobosan dalam manajemen pemerintahan. Hal ini dapat diamati dari lahirnya 48 rencana inovasi yang diluncurkan, dari 168 ide inovasi yang sempat diverifikasi di tahap sebelumnya.

Banyak diantara 48 rencana inovasi itu yang bersifat unique dengan kadar originalitas yang tinggi. Sebagai contoh, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan memiliki inovasi untuk memberdayakan pemuda dalam bentuk inisatif “Pemuda Pelopor Pembangunan” dan “Bamu Petik” (Barisan Muda Pembasmi Jentik). Meskipun terkesan sederhana, namun boleh jadi gagasan seperti ini merupakan penjabaran pidato Bung Karno yang mengatakan “Berikan aku 10 orang tua, maka akan kupindahkan gunung. Berikan aku 10 anak muda, maka akan kuguncang dunia”. Maka, gagasan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk memberdayakan pemuda atau kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini kurang optimal kontribusinya bagi daerah, adalah sebuah inovasi. Dinas Pendidikan masih memiliki ide inovasi yang unique seperti “One Village One PAUD”, “One School One Sport Club”, dan “Sweeping Buta Aksara”. Sementara DPPKAD dan Dinas Kesehatan memiliki orientasi kepublikan yang kuat dengan inovasinya untuk membalikkan proses pelayanan dari masyarakat mendatangi aparat, menjadi aparat mendatangi masyarakat. Inovasi mereka adalah “PBB Door to Door” dan “Layanan Laboratorium Keliling”. Inovasi yang menarik ditunjukkan juga oleh Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi melalui inisiatif “Gerakan Pakpak Bharat Ayo Membaca Selama 30 Menit Setiap Hari” dan “Pakpak Bharat Sejuta Foto”.

Berbagai inisiatif diatas menunjukkan kreativitas kebijakan di Pakpak Bharat semakin baik, yang ditopang oleh aparatur yang inovatif. Namun, itu semua tidaklah cukup. Ada dua hal lagi yang dibutuhkan. Pertama, memastikan gagasan dan rencana inovasi tersebut dapat diimplementasikan hingga memberikan hasil positif berupa kemanfaatan bagi stakeholders. Kedua, memikirkan dan menemukan inovasi-inovasi baru yang lebih berbasis pada karakteristik lokal dan keunggulan komparatif daerah.

Dalam hal ini, saya melihat bahwa Pakpak Bharat memiliki potensi yang tidak dimiliki banyak daerah. Salah satunya adalah lokasinya di ketinggian, udara sejuk, dan alam yang bebas polusi. Setiap pagi saat matahari mulai bersinar, terbentanglah pemandangan yang begitu indah. Sepanjang mata memandang, kabut yang tebal terlihat disekeliling kita. Seketika terbersit dalam pikiran saya bahwa Pakpak Bharat laksana kahyangan atau negeri diatas awan. Sebagaimana layaknya dalam dongeng pengantar tidur, negeri atas awan adalah tujuan yang paling diimpikan, yang menjadi akhir dari perjalanan panjang para pengelana. Maka, jika saya adalah aparat di Pakpak Bharat, akan saya munculkan program “Wisata Kabut”. Harapannya, ratusan bahkan ribuan pelancong akan bergerak dari Sidikalang sebelum subuh (maklumlah fasilitas hotel dan akomodasi belum berkembang di Pakpak Bharat), tiba di Salak menjelang matahari terbit. dan menyaksikan semburat matahari diantara kabut-kabut nan menawan.

Inovasi tadi akan saya integrasikan dengan program “Forest Track”. Setelah puas menikmati indahnya kabut, pelancong kita tuntut menyusuri jalan setapak yang sengaja diciptakan untuk menikmati lebatnya belantara yang menghijau. Selain untuk mendukung promosi wisata, program ini juga menjadi bagian dari pendidikan di alam terbuka, meningkatkan pengetahuan dan kecintaan terhadap kekayaan flora fauna, dan tentu saja, mendatangkan PAD.

Sebagai daerah yang sangat subur dan berlokasi di dataran tinggi, saya agak heran karena tidak menemukan sentra sayuran dan buah-buahan di Pakpak Bharat, sebagaimana lazimnya wilayah dataran tinggi lain seperti Puncak (Bogor), Lembang (Bandung), Tawangmangu (Karanganyar), Kaliurang (Yogyakarta), dan lain-lain. Bagi saya, ini adalah sebuah peluang yang terbuang sia-sia. Oleh karena itu, gagasan mengembangkan “Garden City”, misalnya, adalah sebuah inisiatif yang tidak sulit untuk dilakukan. Setiap warga juga bisa diajak mendukung program ini dengan menyediakan “10 tanaman bunga untuk setiap rumah tinggal”.

Selain peluang yang gagal diraih, ada kecenderungan potensi yang ada kurang dioptimalkan. Sebagai contoh Gambir, tanaman khas Pakpak Bharat yang tidak mudah ditemukan di daerah lain. Saat ini sudah dikembangkan produk turunan Gambir menjadi The Gambir. Namun sayangnya belum terjadi diversifikasi produk yang lebih variatif, misalnya dalam bentuk dodol, keripik, jus, atau kue Gambir. Untuk itu, saya mengimpikan ada program inovatif berupa “Festival Gambir” setahun sekali. Acara ini bukan hanya ajang untuk menjual produk-produk turunan Gambir, namun juga menjadikan Gambir sebagai salah satu maskot Pakpak Bharat. Faktanya, sangat sedikit yang mengetahui bentuk pohon Gambir, buah Gambir, cara membudidayakan, dan seterusnya. Gambir harus dijadikan media untuk mengenalkan Pakpak Bharat ke panggung dunia yang lebih luas.

Inovasi berbasis potensi lokal lain yang ditumbuhkan antara lain dengan mengubah 5 hari kerja menjadi 6 hari kerja. Bagaimana maksudnya? Menurut pengakuan salah seorang pejabat setempat, kurang lebih 50 persen dari pegawai Pakpak Bharat masih berdomisili di Dairi, dan bekerja secara komuter. Akibatnya, kota Salak menjadi jauh lebih sepi pada sore hari dibanding siang hari. Pada hari Sabtu-Minggu kondisinya semakin parah karena makin banyak penduduk yang keluar kota. Implikasi lebih jauh, aktivitas perekonomian dan kemasyarakatan kurang berkembang di Pakpak Bharat. Itulah sebabnya, harus ada upaya untuk mencegah orang meninggalkan wilayah Pakpak Bharat, atau menahan selama mungkin untuk tinggal. Nah, salah satu upaya yang paling mudah adalah dengan mengatur hari kerja menjadi 6 hari.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh para pegawai pada siang hari setelah bekerja? disinilah kreativitas dan upaya me-link­-kan dengan potensi lokal menjadi penting. Saya melihat kantor Bupati dikelilingi oleh bukit-bukit yang kurang produktif karena hanya ditumbuhi oleh rumput dan semak-semak. Seandainya bisa dibuat kavling kecil-kecil, kemudian diserahkan pengelolaannya kepada para pegawai, akan diperoleh manfaat ganda: bagi pegawai merupakan sumber pemasukan alternatif; sedangkan bagi pemerintah daerah menjadi terobosan dalam pengelolaan lingkungan, menghidupkan sektor perekonomian sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat. Program ini bisa dikaitkan dengan inovasi lain misalnya pembangunan perumahan pegawai yang dicicil dari hasil kebun yang diolah oleh para pegawai.

Masih banyak sekali ide-ide segar yang bisa diformulasikan dari daerah berudara segar ini. Satu hal yang pasti, harus ada semangat untuk mengejar ketertinggalan dari daerah induknya, jika perlu melampaui. Kesempatan membangun daerah dari “nol” (pemekaran), sebaiknya dijadikan momentum meletakkan visi besar daerah hingga jangga panjang. Inovasi akan menjadi keyword untuk memastikan visi besar tadi menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar: