Selasa, 28 Juni 2011

Jurnal Harian, Tradisi Seorang Cendekia


Ada sebuah tradisi baru yang saya lakukan selama mengikuti Diklatpim II, yakni menulis Jurnal Belajar Pribadi, atau lebih dikenal dengan sebutan jurnal harian. Menurut Modul 1.A-1 (hal. 52), jurnal harian adalah suatu proses/teknik memperdalam kesadaran diri sendiri ke alur proses kehidupan kita secara total, atau sebuah proses belajar untuk mengerti diri sendiri dengan cara-cara baru. Jurnal harian juga sebuah refleksi dari dalam diri kita, yang dapat memberi stimulus atau dorongan untuk mencari banyak hal dari dunia luar. Adapun isi jurnal dapat berupa kejadian atau peristiwa tertentu yang menarik perhatian kita, kesan terhadap peristiwa tersebut, pembelajaran dan manfaat yang mungkin ditarik dari kejadian yang dialami.

Dengan demikian, sumber utama jurnal adalah pengalaman pribadi yang diendapkan. Dari hasil pengendapan ini kemudian dilakukan refleksi, mengapa suatu peristiwa/fenomena yang dialami tadi terjadi, apa hikmah atau lesson learned dari peristiwa/fenomena tadi, serta siapa dan bagaimana memanfaatkan pelajaran yang berhasil diambil. Dengan kata lain, proses refleksi yang mendalam akan menghasilkan konsepsi penulis jurnal terhadap peristiwa/fenomena yang dialaminya. Selanjutnya, untuk mematangkan konsepsi yang sudah terkonstruksi, kadang kala perlu adanya sebuah proses pengujian konstruksi melalui sharing pengalaman, silang refleksi, atau pengayaan konsepsi dengan jurnal yang ditulis orang lain. Proses dinamis dari pengamatan atas peristiwa, yang membentuk pengalaman, lantas direfleksikan dan membentuk konsepsi, untuk kemudian diuji ini sesungguhnya adalah sebuah siklus pembelajaran (the wheel of learning). Dengan roda pembelajaran seperti ini, tidak aneh jika menulis jurnal harian pada hakekatnya adalah pembelajaran yang paling efektif.

Bagi diri saya pribadi, saya sangat bersyukur dengan adanya kewajiban menulis jurnal harian. Saya merasakan banyak sekali manfaat dari menulis jurnal. Pertama, jurnal adalah sarana untuk mengikat ide-ide kita tentang sesuatu untuk kemudian mengembangkannya. Betapa sering terpetik inspirasi dalam benak kita yang datang secara mendadak. Inspirasi seperti ini, biasanya bersifat sekejap, namun memiliki kadar originalitas tinggi. Jika ide seperti itu tiba-tiba lenyap, betapa ruginya kita hanya karena kita malas menuliskannya dalam catatan kecil harian. Kedua, jurnal adalah sarana pembelajaran yang sesungguhnya bagi seseorang, terutama peserta diklat. Fungsi jurnal ini bukan sekedar menampung bahasa lisan (talking) yang direkam dalam tulisan, namun juga bahasa pikiran (thinking), bahasa tubuh (being), bahasa emosi (feeling), serta bahasa tindakan (behaving). Maka, tidak aneh jika jurnal merupakan satu-satunya produk pembelajaran dalam diklat aparatur yang paling subyektif, namun paling jujur. Lebih hebat lagi, jurnal bukan sekedar media komunikasi antara penulis dengan pihak diluar dirinya, lebih-lebih ia adalah cermin sekaligus sparring partner bagi dirinya sendiri.

Saya sudah merasakan betul manfaat menulis jurnal. Ketika belajar soal proses pembelajaran (learn, unlearn, relearn), saya langsung bisa mengkaitkannya dengan kebijakan desentralisasi (lihat Jurnal #3: Desentralisasi dalam Kacamata Learning Organization). Atau, ketika belajar tentang hukum disiplin kelima, tiba-tiba saya mendapat inspirasi untuk mengaplikasikan dalam kasus nyata di lapangan (baca Jurnal #4: Sudah Belajarkah Pemerintahan Kita?). Terlalu banyak konsep yang saya peroleh selama diklat dan sangat bermanfaat untuk menganalisis peristiwa di permanent system, namun sayang tidak semuanya mampu saya tuangkan dalam jurnal harian. Andai saja agenda diklat tidak tersita oleh diskusi-diskusi kelompok yang memakan waktu hingga larut malam – bahkan menjelang subuh – tentu produktivitas menulis jurnal akan dapat berlipat.

Saking berkesannya saya terhadap penulisan jurnal, saya sampai membayangkan alangkah bagusnya jika penulisan jurnal dijadikan sebagai kurikulum wajib dalam seluruh jenis diklat aparatur. Sudah waktunya penulisan jurnal ini menjadi mata diklat yang mandiri, bukan sekedar penugasan tambahan yang tidak memiliki angka kredit memadai. Jurnal dan pena bagi seorang cendekia, ibarat busur dan anak panah bagi seorang pemburu, laksana syair dan melodi bagi seorang penyanyi, bagaikan kanvas dan guratan bagi seorang maestro. Itulah media aktualisasi diri mereka. Cendekia tanpa jurnal, pemburu tanpa busur, penyanyi tanpa syair, atau maestro tanpa kanvas, adalah bukan siapa-siapa. Jurnal, busur, syair, dan kanvas, akan mengubah sesuatu yang bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang penuh harga diri dan kehormatan. Maka, diklat tanpa jurnal atau cendekia tanpa jurnal-pun rasanya menjadi gersang seperti pohon tanpa dedaunan, hambar seperti canda tanpa tawa, serta hampa seperti berjalan tanpa tujuan …

Kampus Pejompongan Jakarta
Jum’at, 24 Juni 2011

2 komentar:

the mahasiswa mengatakan...

saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
terimakasih ya infonya :)

Ronal Ahmad mengatakan...

SAYA MAHASISWA DARI UNISMA 45 BEKASI TERIMA KASIH INFO,.,