Selasa, 17 Juni 2014

“Kampanye” Dalam Pemilu Presiden

Dalam Pemilu Presiden 2014 ini, awalnya saya memiliki pilihan yang sudah pasti. Banyak alasan mengapa saya tidak lagi ada keraguan untuk mendukung salah satu kandidat. Namun belakangan ini saya mengubah sikap untuk “berdiri di tengah”, meskipun saya akan tetap menggunakan hak pilih pada saat hari “H” nanti.

Dengan sikap “baru” saya tadi, saya mencoba untuk melakukan “kampanye” yang saya sebut sebagai kampanye untuk “politik yang sehat dan pintar” (smart campaign for healthy and smart politics). Istilah ini saya rumuskan karena saya mengamati dari berbagai diskusi di media massa, sosial media, maupun berbagai forum, ada kecenderungan penyebaran virus kebencian dan kebohongan dari pihak-pihak tertentu. Mereka mem-posting beragam berita, pendapat, interpretasi, bahkan fakta yang sangat subyektif dan tidak proporsional, serta cenderung menjadi fitnah dan black campaign. Meski hanya bersifat sementara, namun saya melihat fenomena ini berpotensi menumbuhkan distrust atau sikap saling tidak percaya, serta ungroup atau renggangnya hubungan antar kelompok sosial dalam masyarakat. Dalam skala kecil mungkin hal ini bisa ditolerir, namun jika tidak dikelola dengan conflict management yang baik, maka akan bisa menjadi menimbulkan efek bola api yang semakin luas.

Itulah sebabnya, saya memutuskan untuk bergeser ke wilayah “tengah” dengan melempar berbagai postings atau status yang berhaluan “tengah”. Tujuan saya adalah membangun collective awareness, collective solidarity, collective vision, sekaligus collective action, bahwa beragam perbedaan bangsa Indonesia (termasuk perbedaan pilihan calon presiden), akan tetap disatukan oleh kesamaan visi, nasib, tujuan, dan cita-cita mewujudkan bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Dengan semangat inilah, saya menulis berbagai status guna mengurangi friksi antar individu dan antar kelompok, sekaligus menguatkan ikatan sosial diantara sesama anak bangsa. Adapun status yang saya unggah melalui media Facebook tersebut adalah sebagai berikut:

1.   Memilih calon presiden itu banyak alasannya: 1) karena taqlid dengan seorang tokoh tertentu, pokoke pasrah bongkokan, pejah gesang ndherek panjenengan; 2) karena kesesuaian visi dan program yang ditawarkan kandidat dengan harapan pemilihnya; 3) karena relasi dan ikatan sosial (teman, kerabat, tetangga, asal daerah yang sama, dll); 4) karena taat aturan dan sudah terlanjur mendapat undangan untuk mencoblos meski gak tahu siapa yang akan dipilih dan untuk apa memilih; 5) karena faktor pengaruh tertentu (money politics, iming-iming mendapat jabatan, harapan dapat proyek, dll); dan alasan-alasan lainnya (silakan ditambahkan sendiri).
Apapun alasan anda semua, tetaplah memilih. Tidak masalah pilihan anda menang atau kalah. Apapun hasilnya adalah pilihan rakyat yang harus dihormati. Rakyatlah yang akan menentukan siapa pemimpin terbaik diantara mereka. Maka, jika anda dan kita semua merasa menjadi rakyat, inilah saatnya anda menjadi penentu arah kemana bangsa ini akan dibawa .... 

2.     Media terbelah, Kiai terbelah, Jenderal terbelah, LSM terbelah, Birokrat terbelah, Mahasiswa terbelah, Tetangga terbelah, bahkan Keluarga juga terbelah. Semua hanya karena fanatisme sempit No. 1 dan No 2. Ayo ah kita melihat hal yang lebih besar dari sekedar 1 atau 2, yaitu: kepentingan bersama, tujuan bersama, kehidupan bersama, kemanfaatan bersama, kesejahteraan bersama ... 
Selamat menentukan pilihan tanpa prasangka, serta cerca dan cela yang tanpa etika. Ayo kita bangun budaya politik yang sehat dan kokoh untuk membuktikan bahwa konsolidasi demokrasi di Indonesia sudah berhasil !!

3.  Tidak ada 1 kalau tidak ada 2, dan tidak ada 2 kalau tidak ada 1. Sama seperti siang dan malam, keduanya selalu berdampingan, bergantian, berhubungan, dan berpelukan. 
No 1 dan No 2 memang berbeda, namun keduanya sama-sama bertemu dalam cawan yang sama bernama Indonesia yang toleran, beradab, dan indah. Sama juga seperti asam dan garam, meski datang dari tempat yang berjauhan namun ketemu dalam cawan yang sama yang menjadikan rasa enak, gurih, dan lezat.
So, jangan pertentangkan 1 dengan 2. Biarkan keduanya bergerak dinamis dalam suasana harmonis. Ayo kita buat keduanya menggelorakan spirit silih asah, silih asih, dan silih asuh, seperti siang dan malam, atau seperti asam dan garam.

4.   Obama dari negeri Paman Sam memberi contoh yang baik untuk kedua kandidat capres kita dengan mengatakan "yesterday's competitor is today's collaborator", sehingga beliau mengangkat Hillary Clinton sebagai Menteri LN. Saya sedang berandai-andai, andai saja prinsip itu juga bisa berlaku di negeri ini nantinya ...
Ya, kompetisi selalu bersifat musiman, sedang kolaborasi itu abadi. Semoga prinsip ini tidak dibolak-balik oleh para pendukung kedua kubu yang nampaknya semakin kehilangan akal sehatnya, hehe ... 

5.      Saya yakin, Gerindra itu memperjuangkan demokrasi Indonesia. Sayapun yakin, PDIP itu punya gerakan mewujudkan Indonesia Raya. 1 dan 2 itu, atau Gerindra dan PDIP itu ibarat satu keping mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Mau dibolak-balik berapa kalipun, nilai mata uang itu tetaplah sama. Jadi, yang suka bagian gambar, lanjutkan; dan yang suka bagian angka, teruskan saja. Yang 1 itu sesungguhnya 2, dan yang 2 itu hakekatnya 1. Siapapun yang nantinya dipilih lebih banyak, pasti akan menjadi mitra bagi yang dipilih lebih sedikit dalam sistem pemerintahan yang partisipatif dan kolaboratif. Jadi, untuk apa kita pertentangkan apalagi permusuhkan keduanya? Ayo kita simpan energi untuk masa depan negeri, jangan hanya berpikir untuk hari ini.

6.  Sekedar mengingatkan bagi yang lupa, beberapa butir pengamalan Pancasila, khususnya dari Sila Kemanusiaan itu meliputi: 1) saling mencintai sesama manusia; 2) mengembangkan sikap tenggang rasa, dan 3) tidak semena-mena terhadap orang lain.
Nah, saat menulis status, membuat komentar, memforward berita, dll, sudahkah anda memperhatikan semangat tsb? Jika belum, boleh jadi anda harus mengikuti lagi Penataran P4 Pola 100 jam, hehe ...

7.    Mencintai Indonesia itu tanpa syarat, tidak boleh terdistorsi oleh kecintaan terhadap partai politik tertentu, terhadap tokoh tertentu, terhadap golongan tertentu, terhadap suku tertentu, terhadap aliran tertentu, dst. Mencintai Indonesia itu tidak boleh luntur hanya karena diantara kita beda status sosial, beda tingkat pendidikan, beda latar belakang budaya, atau beda pilihan calon presiden. Mencintai Indonesia itu apa adanya ... Ayo, buktikan kecintaanmu pada negerimu Indonesia !!

8.      Bagi saya, program-program yang ditawarkan oleh Prabowo dan Jokowi itu tidak perlu dilihat sebagai dikotomi. Kedua tokoh itu juga tidak sedang memainkan strategi “zero-sum game” atau “negative-sum game”. Visi mereka berdua itu bukanlah thesis dan antithesis, melainkan diskursus yang bermutu untuk dijadikan sebagai konsensus nasional. Bagi saya, materi kampanye dan debat yang diusung keduanya akan saling menghasilkan energi bagi kedua belah pihak, karena yang satu akan belajar dari yang lain. Jadi, debat Capres itu adalah strategi “positive-sum game” dalam membangun sistem politik yang cerdas. Sungguh aneh jika kemudian para supporter dan simpatisan kedua kubu menjadikannya kesempatan untuk saling ejek dan saling ledek, saling pojok dan saling olok, saling pancing dan saling banting, dan seterusnya.

9.      Nasionalisme itu adalah tidak marah atau terusik ketika sahabat kita berbeda pendapat. Nasionalisme itu adalah tidak kehilangan kepercayaan sesama teman meski beda aliran. Nasionalisme itu adalah menjaga harmoni dan toleransi sekalipun saudara kita berada di seberang sana. Nasionalisme itu adalah terus optimis dan berharap yang terbaik untuk bangsa & negara. Nasionalisme itu adalah terus bekerja keras dan menjaga konsistensi di jalur masing-masing.
Politik yang sehat membutuhkan nasionalisme yang sehat pula, dan pemilu yang cerdas membutuhkan nasionalisme yang cerdas pula. Ayo kawan-kawan, kita tunjukkan bahwa kita semua memiliki semangat nasionalisme yang sehat dan cerdas itu !!

Sampai dengan artikel ini saya tulis, akan sangat boleh jadi jumlah postings / status saya akan semakin bertambah. Bagi saya, ini adalah kontribusi saya untuk negeri yang telah rela menjadi tempat kelahiran saya, dan tempat kelak saya akan kembali. Meski mungkin tidak berarti, paling tidak saya telah mencoba sesuatu. Sebab, kecintaan saja (kepada bangsa, keluarga, lembaga, dan sebagainya) tidaklah cukup. Kecintaan terhadap sesuatu haruslah dibuktikan dengan sesuatu yang nyata, sekecil apapun itu.


Jakarta, 17 Juni 2014

Tidak ada komentar: