Sabtu, 20 Juni 2015

ASEAN Community dan Tuntutan Inovasi



Kata Pengantar Untuk Buku
“ASEAN: Satu Komunitas, Satu Identitas”, karya Ratnaningsih Hidayati

Suatu ketika, Steve Jobs mengungkapkan sebuah pernyataan yang sangat hebat, yakni Innovation is the only way to win. Inovasi, menurutnya, adalah satu-satunya cara untuk menjadi pemenang dan memenangkan sesuatu. Saya sangat yakin, bahwa apa yang dimaksudkan Steve Jobs dengan pernyataannya adalah bahwa inovasi merupakan strategi terbaik untuk membuat diri kita sebagai pihak yang paling diuntungkan dalam iklim kompetisi.

Tahun 2015 ini, pernyataan Jobs semakin terasa urgensinya. Pada akhir tahun ini, seluruh negara anggota ASEAN akan tergabung dalam ikatan masyarakat ASEAN (ASEAN Community). Sebagaimana masyarakat Uni Eropa, masyarakat ASEAN adalah integrasi sistem ekonomi, politik, dan sosial budaya lintas negara, yang mensyaratkan dihapuskannya hambatan-hambatan tariff maupun non-tariff.

Dalam masyarakat dimana tingkat pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, serta penguasaan teknologi relatif merata, maka persaingan terbuka antar kelompok tidak menimbulkan kekhawatiran yang berarti. Namun jika masih terjadi kesenjangan sosial ekonomi maupun digital divide antar kelompok tersebut, maka kecederungan adanya dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya menjadi ancaman yang serius untuk keberlangsungan komunitas tersebut. Antar kelompok akan mendapat manfaat tidak seimbang, yang dapat membuat kesenjangan semakin parah dan tujuan dibentuknya masyarakat ASEAN tidak terwujud.

Untuk bangsa Indonesia yang menurut berbagai kalangan tidak begitu siap menghadapi arus bebas barang dan jasa dari negara tetangga, kemampuan berinovasi menjadi kata kunci untuk tetap bisa berdiri tegak secara terhormat di depan kompetitornya. Bangsa Indonesia harus mampu melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh bangsa lain, mampu berpikir yang tidak terpikirkan oleh pihak lain, dan berani melakukan sesuatu yang berbeda dan melawan mainstream. Sebagai contoh, jika Thailand atau Malaysia lebih menggarap aspek perdagangan sebagai bagian dari pilar ekonomi, Indonesia mungkin lebih baik fokus pada bidang pariwisata, seni-budaya, dan industri kreatif sebagai pilar sosial budaya.

Dalam rangka mendorong semua pihak untuk mampu berpikir kreatif dan inovatif menyikapi berlakunya ASEAN Community inilah, buku karya Sdri. Ratnaningsih ini menjadi sangat relevan. Dalam profesinya selaku Widyaiswara terutama pada agenda inovasi, berbagai aspek dan praktek pemberlakuan Masyarakat ASEAN bisa diangkat sebagai studi kasus yang menarik tentang bagaimana sebuah negara memenangkan persaingan melalui inovasi. Inovasi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan jika kita ingin keluar dari kinerja kebangsaan yang biasa-biasa saja dan beralih kepada kejayaan yang lebih hakiki.

Jakarta, 17 April 2015
Deputi Inovasi Administrasi Negara LAN-RI

Tri Widodo W. Utomo

Tidak ada komentar: