Kamis, 18 Juni 2015

Kampanye Positif Untuk Negeri



Dulu, saya memiliki persepsi bahwa kegiatan konferensi atau workshop internasional yang mengangkat issu atau tema tertentu sebagai kegiatan yang sangat sedikit kemanfaatannya. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman saya mengikuti beberapa kali pertemuan ilmiah antar negara tersebut. Selain banyak peserta yang bahasa Inggrisnya sangat minimal, waktu paparan juga sangat singkat, sehingga proses transfer pengalaman dan proses pembelajaran kurang optimal. Selain itu, tidak adanya tindak lanjut terhadap kegiatan semacam itu menimbulkan kesan bahwa kegiatan ini tidak lebih hanya sekedar formalitas atau silaturahmi antar komunitas intelektual belaka.

Namun, pandangan saya berubah drastis ketika kami mengadakan International Workshop dengan tema Democracy and Innovation in Good Governance, bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri. Acara yang berlangsung antara tanggal 7-12 Juni ini diikuti oleh peserta dari 15 negara berkembang, dengan total peserta sebanyak 21 orang. Materi diberikan oleh Kementerian Luar Negeri tentang demokrasi dan pengalaman Indonesia mengelola konflik, Kementerian PAN dan RB tentang reformasi birokrasi, KPK tentang upaya pemberantasan korupsi, serta oleh LAN tentang inovasi di sektor publik.

Pada saat jamuan makan malam menjelang perpisahan di Restoran Dusun Bambu, Lembang, Bandung, saya sempat menanyakan ke beberapa peserta dari negara-negara Timur Tengah seperti Palestina, Yordania, Irak, dan Suriah, serta negara-negara di kawasan Pasifik seperti Fiji dan Vanuatu tentang pandangan mereka terhadap materi-materi yang diberikan. Sungguh mengejutkan bagi saya bahwa mereka merespon sangat positif program ini dan menyatakan bahwa materi yang dirancang dalam workshop ini sangat aplikatif dan bermanfaat bagi kemungkinan aplikasi di negara mereka. Mereka seperti tidak percaya bahwa sektor publik di Indonesia sudah mampu melakukan banyak inovasi dan terobosan dalam pelaksanaan tugasnya.

Perlu saya kemukakan bahwa pada hari ke-2 workshop, saya sempat memberikan banyak materi tentang inovasi dalam mendorong kinerja sektor publik. Saya mengemukakan data-data makro seperti angka kemiskinan, tingkat pengangguran, indeks gini rasio, indeks pembangunan manusia, dan sejenisnya dalam lima tahun terakhir. Saya juga mengkaitkan dengan janji konstitusi yang tertuang di dalam Pembukaan UUD 1945. Berisi pernyataan politik untuk melindungi segenap bangsa dan tanah air Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut serta dalam perdamaian dunia. Ternyata, janji-janji itu belum dapat diwujudkan hingga 70 tahun setelah Indonesia merdeka. Rendahnya kinerja ini dalam perspektif inovasi disebabkan karena bangsa kita melakukan kebijakan dan upaya yang biasa-biasa saja, sehingga hasilnyapun biasa-biasa saja. Maka, untuk menghasilkan kinerja yang luar biasa, haruslah dilakukan dengan cara yang tidak biasa pula, yakni dengan inovasi. Saya kemudian menjelaskan tentang berbagai inisiatif inovasi di beberapa daerah di Indonesia yang telah terbukti mampu meningkatkan kinerja secara signifikan.

Respon yang lebih mengejutkan bagi saya adalah bahwa mereka mengharapkan program serupa dapat dilakukan di negaraq mereka sehingga dapat diikuti oleh lebih banyak peserta dari negara mereka, sekaligus mendatangkan banyak peserta asing ke negeri mereka. Pernyataan ini secara eksplisit disampaikan oleh peserta dari Fiji, Vanuatu, dan Palestina. Kebetulan sekali, salah satu peserta dari Indonesia adalah seorang petinggi dari lembaga NAM (Non-Alignment Movement) yang memiliki fungsi memberi dukungan terhadap program instansi pemerintah untuk memperkuat hubungan antar negara berkembang, khususnya dalam kerangka South-South Cooperation. Beliau siap memberi dukungan penuh jika LAN akan membuat program capacity building yang melibatkan lebih dari dua negara.

Dari berbagai respon yang saya terima, saya merasakan bahwa program workshop yang kami laksanakan telah memberi efek positif, yakni kampanye tentang sisi-sisi positif Indonesia di berbagai bidang. Bagi mereka, Indonesia memiliki begitu banyak keunggulan yang sangat layak untuk dicontoh. Saay-saat mendengar testimoni mereka, saya merasa begitu bangga sebagai warga negara Indonesia. Citra negeri kita begitu baik dalam pandangan mereka.

Kondisi seperti itu begitu kontras jika dibanding dengan banyaknya berita-berita negatif tentang negara kita, dari maraknya kasus korupsi, pertikaian antar elit, demonstrasi anarkhis, hingga kasus-kasus kriminal seperti prostitusi online, terorisme, dan seterusnya. Faktanya, media cetak dan elektronik di Indonesia lebih suka menyajikan berita-berita yang buruk dibanding beragam keberhasilan pembangunan di berbagai sektor dan wilayah. Prinsip bad news is good news nampaknya masih menjadi filosofi abadi bagi para insan media. Sementara itu, program semacam workshop yang kami laksanakan untuk membuka mata dunia tentang sisi lain Indonesia, begitu terbatas dana dan frekuensinya.

Itulah sebabnya, di akhir workshop pandangan saya tentang program seperti ini menjadi berubah 180 derajat. Kami bahkan berencana akan merancang program baru untuk menyeimbangkan orientasi kami yang selama ini lebih fokus untuk memberikan advokasi tingkat nasional berupa laboratorium inovasi di berbagai daerah, dengan orientasi bari secara internasional untuk memberikan kontribusi kepada negara-negara sahabat yang relatif lebih rendah tingkat kinerjanya dibanding Indonesia. Inilah saatnya Indonesia untuk berani lebih high profile dengan mengekspose berbagai program unggulan dan mereplikasikannya di berbagai negara berkembang. Tentu ini adalah sebuah peluang besar yang memberikan tantangan sangat besar pula bagi LAN. Kerja keras saja tidak cukup, namun kapasitas SDM dan penguatan networking menjadi prakondisi lain untuk keberhasilan orientasi baru ini. Yang pasti, tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang inovator dan agen pembaharuan. Semoga saja hal ini tidak hanya berhenti sebagai mimpi indah di siang bolong.

Serpong, 17 Juni 2015.
*mengisi hari pertama puasa ramadhan, bertasbih melalui tulisan*

Tidak ada komentar: