Senin, 10 Februari 2014

Melanggengkan Kebodohan


Dalam hidup keseharian republik ini, boleh jadi terlalu banyak kebodohan yang justru dilakukan oleh manusia yang cerdas secara intelektual. 

Contoh paling gres dapat kita saksikan dalam beberapa hari terakhir ini terkait berita tidak sedap tentang rusak dan berkaratnya bus yang baru didatangkan dari China. Kompas Online (10/2/2014) melaporkan bahwa 5 dari 90 bus baru Transjakarta dan 10 dari 18 bus baru untuk bus kota terintegrasi busway (BKTB) mengalami kerusakan di sejumlah komponennya. Misalnya, banyak komponen berkarat, berjamur, dan beberapa instalasi tidak dibaut. Bahkan ada yang tidak ada fanbelt mesin. Alasan dari Dinas Perhubungan maupun dari ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) penyedia bus Transjakarta bahwa berkaratnya komponen bus tadi disebabkan oleh cuaca buruk dan korosi akibat cipratan air laut saat pengapalan dari Beijing sampai Tanjur Priuk, dinilai oleh Gubernur DKI sebagai tidak masuk akal. Jokowi mengatakan: "Masa di dalam kapal tongkang kena air laut. Kita kan ngirim gini ndak sekali dua kali." Pernyataan ini diperkuat oleh Wagub DKI Ahok yang dengan geram mengatakan: “Mana ada kena uap laut bisa karatan. Ini besi apa seng?" Maka, wajar saja jika muncul kecurigaan bahwa komponen bus tadi adalah barang bekas, bahkan salah satu judul berita di Kompas Online menulis dengan judul yang sedikit provokatif, yakni “Transjakarta diduga bekas, Jokowi ditipu Perusahaan China?” 

Jika Gubernur DKI dan Wakilnya saja begitu geram dengan ulah oknum-oknum tidak bertanggungjawab dalam pengadaan bus ini, bagaimana dengan rakyat yang menggunakan langsung bus-bus tersebut? Saya sendiri jauh hari sebelum kasus ini muncul, punya kesan yang negatif tentang kualitas bus Transjakarta ini. Saya perhatikan, bahwa mayoritas bus yang ada saat ini kondisinya sangat tidak layak. Untuk melihatnya saja saya cenderung jijik dan muak. Bus Transjakarta yang mestinya menjadi icon Jakarta dan berbeda “kelas” dibanding moda sejenis seperti Kopaja, Metro Mini, Mayasari, dan sejenisnya, ternyata setali tiga uang. Dari dulu hingga sekarang saya tidak habis pikir, bagaimana bus baru yang dikelola oleh pemerintah dengan anggaran amat besar bisa tampil begitu kumuh? Di tengah-tengah gebyar kota Jakarta yang makin modern, keberadaan Transjakarta terkesan memperburuk wajah kota laksana jerawat-jerawat yang pecah dan bernanah. Dan sekarang barulah saya mendapatkan jawabannya, bahwa yang kita beli dari negeri seberang memang “jerawat”, bukan obat terhadap jerawat-jerawat kota kita. Yang kita miliki memang bus-bus bekas yang dalam waktu singkat akan menjadi sampah, bukannya sarana transportasi yang akan menjadi solusi kemacetan kota. 

Bagi saya, ini adalah kebodohan kolektif bangsa. Perilaku oknum yang mencari keuntungan pribadi dan sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara, adalah kebodohan pertama. Sikap pejabat atau pengusaha yang mestinya berani secara ksatria menyatakan tanggungjawab namun malah mencari alasan pembenar yang tidak masuk akal, adalah kebodohan kedua. Minimnya kepedulian terhadap dampak buruk yang mungkin timbul dari pemakaian barang bekas adalah kebodohan ketiga. Kelemahan diplomasi maupun penguasaan teknologi yang rendah sehingga kita terima saja barang rongsok dari China adalah kebodohan keempat. Tidak adanya sense of quality terhadap produk layanan, sense of dignity terhadap semangat kebangsaan, dan sense of devotion terhadap nilai-nilai kepublikan, adalah kebodohan kelima. Ketidaksadaran bahwa sesungguhnya kita sedang dibodohi bangsa lain adalah kebodohan keenam. Tentu, akan ada kebodohan ketujuh, kedelapan, dan seterusnya, jika kita rinci lebih detil. 

Sayangnya, kebodohan-kebodohan sejenis seperti menjadi hal yang biasa dalam keseharian kita. Kebodohan yang lain misalnya saya saksikan di sepanjang Jalan S. Parman, Jakarta Pusat, di deretan depan RS. Jantung Harapan Kita dan RS. Kanker Dharmais, terkait penggantian trotoar. Seandainya saya anggota DPRD DKI, meskipun saya melihat bahwa trotoar lama masih cukup baik, namun penggantian trotoar tetap saya dukung. Sebab, selain memperindah wajah kota dan meningkatkan hak para pejalan kaki, pembangunan trotoar baru ini juga dilengkapi dengan ubin kuning bergaris yang khusus diperuntukkan bagi penyandang tuna netra. Dengan demikian, pembangunan trotoar ini adalah wujud kepedulian pemerintah untuk menciptakan pelayanan publik yang inklusif. Namun, pengerjaan yang asal-asalan menjadikan proyek ini terjerumus pada sindrom kebodohan lagi. Tidak ratanya ubin satu dengan ubin lainnya, terputusnya ubin kuning bergaris oleh tutup gorong-gorong, tidak tuntasnya pengerjaan (seperti ditinggal begitu saja), menumpuknya material bekas galian di beberapa titik, dan seterusnya, membelalakkan mata siapa saja yang menyaksikan bahwa kebodohan sedang terhampar di depan kita. Berapa kerugian biaya, waktu, tenaga, dan kesempatan dari pola kerja yang bodoh dan serampangan seperti ini? Apalagi jika ada yang berharap bahwa tahun anggaran yang akan datang akan dapat dialokasikan lagi proyek sejenis, itu adalah kebodohan yang teramat bodoh. Sungguh saya sedih sekaligus marah dalam hati melihat hal-hal seperti ini. 

Kebodohan lain juga dengan mudah kita dapatkan, misalnya berupa iklan rokok yang dilakukan begitu agresif, namun tidak malu-malu menuliskan peringatan dengan huruf besar berbunyi “Merokok Membunuhmu”. Coba perhatikan, peringatan yang disertakan dalam iklan tadi begitu jelas dan tegas, tidak seperti peringatan yang kita lihat selama ini yang berbunyi “Peringatan pemerintah: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin”.  

Saya amat terkejut membaca iklan seperti itu. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan yang menyadari sepenuhnya bahwa merokok adalah sebuah “aksi pembunuhan” secara perlahan, namun dia tetap memproduksi rokok secara massif serta mengkampanyekan pola hidup terkutuk secara gencar? Mengapa saya katakan terkutuk? Karena, ditegaskan sendiri oleh industri rokok bahwa merokok dapat membunuh si perokok. Dengan kata lain, merokok sama artinya dengan bunuh diri perlahan-lahan. Dan jika kita tahu bahwa ada ribuan – mungkin jutaan – orang sedang bunuh diri secara perlahan-lahan, mengapa kita diam saja seolah tidak ada masalah sama sekali? Jika merokok memang membunuh manusia, mengapa pihak berwajib yakni Kepolisian juga membiarkan saja? Bukankah pembunuhan adalah sebuah sebuah aksi kriminal? Apa bedanya membunuh dengan racun dengan membunuh dengan (racun) nikotin yang ada dalam rokok?  

Pembiaran oleh pemerintah untuk terus mengijinkan industri rokok, pembiaran oleh aparat hukum terhadap “pembunuhan” melalui rokok, pembiaran seorang perokok terhadap rokok yang menggerogoti jiwa raganya, pembiaran iklan hipokrit ditayangkan dimana-mana, pembiaran kampanye merokok tayang di berbagai media advertorial, dan seterusnya, sekali lagi adalah bentuk kebodohan kolektif yang berlarut-larut. 

Entah mengapa kebodohan seperti ini berlangsung terus menerus, bahkan sering tidak kita sadari. Entah mengapa ada kesan kebodohan-kebodohan ini terus kita langgengkan. Kegagalan kita untuk segera menemukan cara yang jitu untuk keluar dari berbagai kebodohan diatas, adalah juga kebodohan kita. Jangan-jangan kita memang sudah masuk dalam perangkap kebodohan, sehingga hal secerdas apapun yang kita lakukan, hakekatnya tidak lebih hanya sebuah kebodohan belaka.  

Naudzubillahi min dzalik … Semoga Allah SWT, Tuhan YMK melindungi bangsa ini dari berbagai kebodohan dan menjadikan negeri ini sebagai rahmat bagi seluruh penghuninya. 

Gedung B Lantai 5 Jl. Veteran 10.
Jakarta, 11 Februari 2014.

Tidak ada komentar: